Pengumpan:
Tulisan
Komentar

BURNI TELONG

Netty Wary

 

Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 malam, aku baru saja siap  belajar dan menyelesaikan tugas. Kubaringkan badanku di atas ranjang sembari mengendorkan otot-otot saraf ku yang telah lelah seharian dalam rutinitas. Kupejamkan mata perlahan-lahan sambil menyelimuti badan ku. Tapi entah kenapa malam itu aku merasa sangat kedinginan, sehingga mata juga susah untuk dipejamkan. Aku merasa seperti berada di tempat kelahiran ku, desa yang berhawa sejuk sehingga ketika malam tiba, tak bisa tidur sebelum badan diselimuti minimal dua kain selimut, wah dingin bwanget.

Karena kedinginan aku tak bisa tidur, pelan-pelan aku membalikkan badan dan mata ku tertuju tepat pada buku  yang ku susun rapi di atas lemari. Tanpa berpikir panjang aku bangun dan mengambil salah satu buku yang berjudul “Aku Bisa Nulis Cerpen”. Memang sih biasa nya buku adalah pengantar tidur ku, jika aku tak bisa tidur aku selalu membaca buku dan bagi ku buku merupakan sahabat yang paling setia. Pernah satu malam aku membaca novel karangan Habiburrahman El Shirazy sampai pukul 01.30 dini hari. Lanjut Baca »

>> Akmal MR

imag0074.jpg

 

Kepada Emak Niffa

Di -

Kampung …???

Emak, sekarang aku mulai beranjak dewasa. Miwa yang berkata itu. Saat ini Agam sungguh sangat ingin melihat wajah Mak. Semenjak emak pergi sepi dan selalu sunyi yang Agam rasa. Mak, Agam sudah dipindahkan ke kelas yang baru di sekolah yang lain juga. Miwa bilang aku suda naik kelas. Namun tak ada lagi tempat ku di sekolah dulu. Kini aku sudah punya sekolah baru dan perlengkapan sekolah baru yang Miwa dan Pak Cek yang membelikannya untukku. Lanjut Baca »

NÈK SIÔN_2

>>> Yudi Pratama

 

Hari ini cuaca sangat panas. Matahari bersinar dengan teriknya. Tubuhku seakan-akan terbakar. Aku berjalan pulang menuju rumahku yang tercinta. Aku berjalan dengan langkah yang sangat cepat agar aku bisa sampai dirumah. Aku merasa siang ini matahari tidak begitu bersahabat. Matahari seolah-olah marah dengan memancarkan sinarnya ke seluruh bumi ini. Segera terbayang di ingatanku enaknya segelas air dingin di campur dengan sedikit sirup. Hm…enak sekali diminum disaat cuaca seperti saat ini. Setidaknya semua itu bisa menghilangkan gerahku. Lanjut Baca »

 

>> Epriadi

img_0366.jpg    Gadis mungil berkerudung yang duduk di ayunan taman sekolah itu tengah menangisi kehidupannya yang betapa nestapa. belum lama ini ayahnya menghadap yang maha kuasa, ibunda yang ia cintaipun menyusul pula. kini ia bersama bibi dan pamannya yang tinggal ditengah kota. anak desa yang dulunya manis manja telah pula berhadapan segudang pekerjaan rumah tangga yang baiknya dikerjakan orang dewasa, namun apa hendak dikata kehidupan yang ia jalani harus pula ia teruskan meski seperti budak masa penjajahan.

nita gadis remaja yang baru berumur 16 tahun itu menangis tersedu, wajahnya pucat, tubuhnya yang kurus ditutupi pakaian yang telah usang, iba aku melihatnya yang sedari tadi kupandangi dari balik ranting dan daun bunga melati tak jauh dari pondok warung dalam taman itu. meski sedikit gusar langkah kakipun kugerak menuju nita, dengan nada yang sedikit kuatur sapaanku membuatnya terburu mencoba menghilangkan duka, air matanya yang telah mengering itupun ia usap dengan tangannya. Lanjut Baca »

RIUH TAK BERTUAN

Oleh : efriadi

Derai tangis belum hilang

Letus senapan masih membekas

Gelak tawa masih diragu

Kini Lanjut Baca »

Surat Terakhir

Oleh: Netty Wary

Sudah setahun aku tidak bertemu dengan dia, kerinduan hatiku semakin terasa mendalam saat smsnya kubaca dua hari yang lalu.”Hidup ini indah jika ada maaf diantara kita dan hidup yang indah adalah hidup yang manis dan barokah”

Aku tak pernah mengerti apa maksud Rini, tiba-tiba sikapnya berubah terhadapku, dia sudah jarang mengangkat telepon dan membalas sms ku, ini aku rasakan sejak keberangkatannya ke Malang setelah tamat SMA. Aku tak pernah mengerti apa yang ada dalam jalan pikiran Rini.

Memang sih dulu aku pernah menaruh hati padanya, ternyata Rini juga memiliki perasaan yang sama seperti aku, setelah dua bulan kami lalui, tibalah saat nya untuk berpisah karena kami sudah tamat sekolah, Rini berangkat ke Malang sedangkan aku tetap di Aceh. Lanjut Baca »

“Bola Lampu” Indah

>> Akmal MR

Kau panggil aku dengan sebutan Aan lampu kenapa? Aku terus berusaha manjauh dari tatapan matanya yang seakan terus bertanya seperti itu. “Aan telah kemabali….Aan telah kembali” teriak Rudi memecahkan galau menungku tatkala melihat tatapan Aan yang runcing menghujam ingatanku. “Bang, itu Aan, itu dia, cepat lari! Jangan dekati dia” Rudi yang kecil terus berteriak melihat Aan menuju ke arah kami. “jangan takut dek, dia tidak akan menyakiti kita”. Ucapku sambil memegang tangan Rudi yang terus bergetar saat Aan melintas dihadapan kami.

Sorot matanya tajam, sangat tajam. Ia terus melihat kami dengan baik. Tatapan itu seakan-akan menjelaskan bahwa matanya mampu menghitung jumlah kerutan di wajahku dengan jelas saat ia melintas dihadapan kami. Aku juga terus melihatnya bergerak sedikit-demi sedikit menjauh dari kami, tapi matanya kini beralih ke Rudi yang terlihat semakin ketakutan. “untuk apa dia melihat Rudi?” gumamku dalam hati sambil menaruh senyum pada Aan. “Tapi, dia tak juga melihatku lagi, apalagi membalas senyumku. Ah, aku sebaiknya pergi saja”. Dia hanya melintas dan kemudian lalu begitu saja. Dia terus berjalan dan matanya terus menuju ke tanah disekitar dia.

Beranjak dari itu, langitpun benar-benar bengis, matahari telah membakar hampir ke setiap sudut tubuhku. Rasa letih kian merundung, tubuhku sudah merasa gerah dan lelah usai mencabut rumput di halaman depan rumah. Sementara itu Rudi telah masuk untuk mengambilkan segelas air untukku. “apa yang membuat Rudi takut melihat Aan? Semestinya dia tak harus merasa seperti itu. Memang tubuh Aan terlihat lesuh karena tidak pernah disirami air, kecuali saat musim hujan”. Hatiku terus meracau tak menentu. Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.